Posted by: milkaseca on: November 2, 2011
Setelah sekian lama tidak membuat blog, akhirnya saya kangen juga untuk bercuap-cuap lagi.
Semua tulisan yang saya buat selama ini adalah reminder saya. Saya membuatnya dalam keadaan pikiran sehat, lurus dengan maksud jika saya sedang dalam keadaan miring, pikiran tidak menentu, saya bisa diingatkan lagi “hey wake up, come back to normal” jika membaca tulisan-tulisan saya sendiri.
Beryukur, adalah sebuah kata yang sederhana, sering sekali kita mendengarnya. Namun, maknanya sangat besar jika kita benar-benar menerapkannya dalam hidup kita. Mengapa saya menulis tentang topik ini? karena saya sedang belajar untuk menerapkannya dalam hidup saya setelah menyadari sesuatu.
Teringat waktu saya SD, rasanya melihat remaja SMP itu asik sekali. Pakai baju warna warni, gaul, lagaknya sudah lebih dewasa daripada anak-anak SD yang suka main bekel, lompat tali, dll. Eskulnya asik-asik, tidak seperti SD yang hanya punya eskul pramuka (wajib pula). Kalau ada bazaar, wah keren. Bisa membuat stan-stan kreatif hasil ide kelas. Di SD mana ada begituan? Seragamnya SMP juga kelihatan lebih bagus daripada SD. Bosan, sudah 6 tahun modelnya begini aja. Gedungnya juga rasanya lebih bagus SMP daripada SD yang terasa kecil. Rasanya masa-masa SD tidak selesai-selesai. Ingin rasanya segera SMP.
So, time goes by and I become a junior high school student.
Waktu pertama kali masuk SMP, rasanya senang sekali. Ini adalah waktu yang sudah lama kutunggu-tunggu. Jauh-jauh hari sudah mencoba baju seragam SMP. Dasi kupu-kupu yang menekak di leher terlihat cute. Bau seragam masih baru, pikiran-pikiran indah melayang terbang kesana kemari. Banyak harapan muncul saat masuk SMP. Ternyata awal-awal masuk SMP menyenangkan. Teman-teman baru, suasana baru, buku-buku baru, guru baru. Menyenangkan sekali. Namun, saya mulai melihat jadi anak SMA itu menyenangkan. Rasanya keren, ada sweet seventeen, party terus, Banyak anak SMA di les-lesan piano saya yang bisa memainkan partitur susah, keren. Ingin rasanya cepat jadi anak SMA. Pasti saat itu aku sudah lebih bagus main pianonya, dapat KTP, badan tambah tinggi. Rasanya ingin sekali tubuh ini bisa cepat cocok menggunakan baju-baju ala SMA. SMP memang menyenangkan, namun karena ada imajinasi SMA yang indah, rasanya ingin cepat SMA. Masih ingat saya ketika berbicara pada teman baik saya waktu kelas 3 SMP. Aduh, nanti SMA di mana ya. Trus kita ntar jadi kayak gimana ya, dll. Terlalu sibuk berimajinasi tentang masa depan. Rasanya tidak sabar lulus UNAS dan menjadi anak SMA.
Dan….jadilah saya anak SMA.
Saat-saat SMA, saya mulai mengalami beberapa tekanan. Secara akademis, ada tekanan untuk berprestasi. Rangking adalah tujuan utama saya. Namun, seperti remaja lainnya, saya juga ababil, alias ABG labil. Banyak melewati masa-masa mencari jati diri, emosi tidak stabil, tidak mengenal diri ini siapa, mengopi orang lain, dll. Ada masanya I become a jerk (hahaha….I’m sorry guys if you become one of my victim in the past). Semua itu tidak kusadari. Ternyata ini to rasanya jadi ABG SMA. Menyiksa. Karena terobsesi mengejar prestasi akademik, tidak menikmati masa-masa SMA dengan baik. Waktu SMA kelas 3 adalah puncak rasa bosan. Hampir setiap hari rasanya pikiran untuk cepat lulus SMA terlintas di benakku. Salah satunya karena alasan bingung mau ambil jurusan apa. Rasanya ingin segera mengakhiri masa-masa bingung ini untuk memperoleh kepastian. Penasaran akan masa depan. Lagipula, teman-temanku banyak yang bilang. Kalau kuliah itu enak. Tidak perlu bangun pagi, bebas, udah boleh pacaran, bisa bawa mobil sendiri, ga usah les pelajaran, dll. Aduh, pengen banget cepet lulus dan kuliah.
So, my wish come true and I become a university student.
Awal-awal masuk kuliah menyenangkan. Banyak kenalan baru, semuanya terasa sempit. Kenal berbagai anak dari jurusan yang berbeda-beda, lingkungan berbeda. Rasanya melihat kakak senior keren-keren, dll. Banyak pembicaraan mengenai pekerjaan, uang, rasanya sudah dewasa. WOW! It’s cool. Menginjak akhir-akhir semester, sudah mulai memikirkan tentang kelanjutan setelah lulus. Mau s2 kah, kerja, atau bagaimana? Kebiasaan lama mulai muncul. Berimajinasi, bingung sendiri, penasaran, dan mulai ingin segera menuju ke masa depan, yaitu kelulusan. Bosan kuliah ini lah itu lah, dll.
Lalu, suatu ketika saya mencapai masa dimana saya memikirkan kembali tentang hidup saya selama ini. Waktu reuni SD, saya mengenang masa-masa SD. Rasanya kangen dengan bermain lompat tali yang membudaya di kalangan anak SD, juga kangen dengan masa-masa tangan saya sangat termpil bermain bekel. Rasanya lucu mengingat olahraga SKJ, upacara bendera yang dihabiskan dengan mengeluh, mengingat rasanya bermain dengan anak-anak antar jemput dan kepolosan waktu kecil. Rasanya melihat foto kelas waktu SD, saya jadi rindu dengan masa-masa itu. Jika saya main lompat tali di universitas, akan dianggap aneh. Antar jemput dan aksi tangkap jangrik sudah tidak ada lagi. Banyak hal yang menjadi budaya anak kecil yang sudah tidak layak lagi dilakukan oleh orang dewasa.
Ketika bertemu dengan teman-teman SMP, rasanya teringat lagi akan masa lalu. Acara masak memasak yang menghabiskan micin berbungkus-bungkus demi menyelamatkan nilai, acara menjahit yang membuat kami seperti ibu-ibu arisan, masa-masa jadi OSIS, masa-masa menghabiskan waktu di pepustakaan sekolah yang nyaman, masa-masa membuat stan rumah hantu yang merusak paru-paru karena piloks dan debu-debu, mading, dll. Rasanya rindu untuk kembali kesana.
Ketika bertemu dengan teman-teman SMA, teringat masa-masa nyanyian suram menuju kelulusan, masa-masa tidur di kelas, masa-masa cinta monyet, masa-masa dimana murid-murid maju bernyanyi dengan pedenya walau suara pas-pasan, atau berakting dengan pedenya walaupun jayus, menari jawa dengan gerakan seperti robot saking kakunya, dll. Rasanya lucu untuk dikenang.
Namun, ada masanya saya merasa bahwa saya kurang enjoy dengan semua itu. Saya terlalu sibuk dengan pikiran ingin segera ke masa depan. Ingin segera dewasa. Kurang menyadari bahwa suatu saat saya akan merindukan masa-masa saat itu. Seharusnya saya menikmati setiap fase kehidupan saya.
Sekarang belum terlambat untuk berubah. Waktu itu cepat berlalu, keadaan cepat berganti, dan orang berubah. Semua yang ada saat ini mesti dinikmati, menyadari bahwa saat ini saya hidup, bernapas, saya bisa menggerakkan semua anggota tubuh dengan leluasa, saya bisa berlari, saya bisa tertawa, menangis, saya muda, dll. Semua itu bisa tercapai jika saya bersyukur.
Saya tidak ingin berpikir, saya ingin segera menjadi wanita berumur 30 tahun yang sudah mapan, berkeluarga, rasanya enak bisa ini itu, dll. Tidak….itu berbeda.
Saat saya berumur 30 tahun nanti, mungkin saya akan merindukan masa-masa kebebasan saya, masa dimana kulit masih kencang, masa dimana saya masih bisa berpikir beli sepatu, baju, dll untuk saya sendiri karena di umur 30 tahun akan ada orang lain yang hidupnya juga saya tanggung dan harus saya pikirkan.
Saat saya berumur 20 tahun, saya menyadari ternyata main lompat tali sudah tidak lazim, main bekel sudah tidak lumrah, benteng-bentengan dan dolip-dolipan sudah punah, masa-masa ababil sudah tidak zaman, acara masak-memasak micin berbungkus-bungkus atau jahit menjahit ala ibu-ibu arisan sudah beakhir. Semuanya diganti dengan tugas-tugas kuliah, mal-mal, mengejar dosen, dll.
Sadari keberadaan kita saat ini. Apa yang bisa kita dapatkan saat ini, apa yang kita miliki saat ini adalah penting. Karena gedung akan berganti, usia akan bertambah, zaman berubah, suasana akan berbeda. Pentingnya menikmati dan beryukur apa yang ada saat ini. Karena di masa depan, belum tentu kita bisa menemukan apa yang kita temui sat ini/ kita miliki saat ini. Awali hari dengan memanjatkan syukur kepada Tuhan atas oksigen, atas kesehatan, udara, keluarga yang sehat dan lengkap, hari baru yang diberikan. Tutup hari dengan bersyukur atas satu hari yang boleh dilewati, kesempatan untuk kuliah, bertemu dengan teman-teman, bersyukur untuk masalah yang ada, untuk makanan yang boleh kita makan 3 kali sehari, untuk berkat kebahagiaan dan air mata. Karena semua itu adalah anugerah untuk kita saat ini.
ouw … ternyata umur 21 to
… aq jd inget waktu aq umur 21 …
Keep fighting, searching & demanding the best so you’ll get the best.
But still, at some point you need to stop those 3 “stupidities” and
enjoy what you’ve got.
Cheers,
Grace’s
November 3, 2011 at 3:18 pm
PLOK.. PLOK.. PLOK…100x… cape banget..hahhaa
ga nyangka tulisanmu keren juga.. top b^_^d
yg lucu pas micin berbungkus2.. itu ngeracunin ato gmn..wkwkkk
Tp secara keseluruhan.. LUAR BIASA… sekali lagi … PLOK..PLOK..PLOK… 200X…. pegel deh.. hahhaha
November 4, 2011 at 3:55 pm
Hahahaha….opo to dick. kayake ngeploki monyet aja. wkwkwk….
namanya aja ga bisa masak, ya begitu d, micin jadi penyelamat. hahahha….
tengkiu2 buat keplokane. lain kali ke rumahku ya. banyak laler n nyamuk. bisa mati semua tuh kamu keplokin. hehehe…….